Socrates

dg

Socrates tidak meninggalkan tulisan sedikitpun.Sehingga sulit untuk menemukan riwayat hidupnya.Walau demikian kita dapat mengetahuinya dari tulisan-tulisan yang ditulis oleh Aristophanes, Xenophon, Plato, dan Aristoteles.Diantara penulis biografi Socrates tersebut, Platolah yang banyak menuliskan riwayat hidup Socrates dan pandangan-pandangannya.Dari tulisan Platolah kita bisa mengenal Socrates.

Socrates berasal dari keluarga yang cukup kaya di Athena, 469 SM. Ayahnya bernama Sophroniscos yang merupakan tukang pembuat patung dan ibunya bernama Phairnarete yang berprofesi sebagai bidan. Socrates mempunyai seorang istri bernama Xantipe yang dikenal judes alias galak dan keras. Socrates mendapat pendidikan yang baik.Pada masa mudanya Socrates mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang tukang kayu.Kemudian beralih menjadi seorang prajurit Athena yang gagah berani. Namun ia tidak menyukai perpolitikan yang pada akhirnya ia menjadi seorang filosof yang terus mencari kebenaran dengan jalan bertanya.

Socrates meninggal karena dihukum mati atas tuduhan yang dilontarkan kaum sophis dengan alasan bahwa Socrates telah merusak moral pemuda dan menggoyahkan kepercayaan Negara.Ia dihukum di umurnya yang ke-70 tahun dengan meminum racun. Sebelumnya Socrates memberikan pembelaannya atas tuduhan yang dibawa oleh kaum sophis.Pembelaannya ini ditulis oleh Plato dalam karangannya yang berjudul Apologia.

  • Pola Pengajaran Socrates

Pola pengajaran Socrates adalah dengan caraMajeutika, kebidanan (menguraikan). Dalam artian menguraikan sesuatu dengan sebuah pertanyaan untuk mendapatkan definisi yang kokoh yang dapat dijadikan pedoman hidup. Dari metodenya inilah yang menimbulkan sebuah metode dialektika, dialog atau tanya jawab.

Sebetulnya Socrates ini tidak lepas dari pengaruh kaum sophis yang ada pada zamannya.Mereka mengaku sebagai kaum yang pandai, yang menguasai ilmu pengetahuan. Kaum sophis mengajarkan ilmu pengetahuan dengan cara memungut biaya. Lama-kelamaan mereka menarik keuntungan dengan kepintaran mereka dan sering kali mereka terkesan sebagai penipu. Oleh karenanya Socrates mengaku bahwa ia bukan kaum sophis (kaum yang bijaksana), melainkan hanya pecinta kebijaksanaan atau pencari jalan kebenaran. Dalam mengajarkan ilmu pengetahuannya ia tidak pernah memungut biaya.

Socrates lebih menekankan pada kajian tentang manusia, khususnya tentang tingkah laku manusia atau etika dan moral.Ia menekankan akan pentingnya pengenalan terhadap diri. Yang mengenal dirinya berarti mengenal Tuhannya.Ia tidak pernah menuliskan pemikirannya, karena baginya ilmu adalah perbuatan manusia yang bisa menjadi teladan, bukan hanya teori dalam buku. Socrates meyakini bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani, yang keduanya tidak bisa dipisahkan.Dari kedua unsur inilah berbagai nilai manusia dimunculkan.Terutama kebahagiaan hidup. Baginya menuju kebaikan adalah cara terbaik mencapai kebahagian hidup[1].

Socrates dikenal sebagai orang yang bijak, adil dan mampu mengendalikan dirinya.Ia mengaku sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Metode pengajaran yang digunakan Socrates adalah dengan cara bertanya, biasanya diawali dengan pertanyaan “apa itu?”. Suatu ketika ia beradu argumen dengan kaum sophis yang mengaku berilmu pengetahuan. Hal ini disaksikan oleh dikhalayak umum.Socrates hanya mengajukan pertanyaan dan guru sophis yang memberikan jawaban. Awalnya jawaban-jawaban guru sophis ini memojokan Socrates, namun ia terus bertanya hingga akhirnya guru sophis itu menyerah dan berkata “aku tidak tahu”. Dan disinilah maksud Socrates bahwa sebetulnya kita ini tidak tahu apa-apa yang mengaku serba tahu.Jadi “aku tahu kalau aku tidak tahu”.

Karena kebijaksanaan, keadilan dan kecerdasannya ini Socrates memiliki banyak teman dan kedudukan yang terhormat dimata masyarakat. Selain memilik banyak teman, Socrates juga memiliki banyak musuh khususnya  dari kalangan sophis. Sehingga Socrates dihukum mati karena tuduhan mereka.Socrates dianggap orang yang berbahaya yang dapat menghancurkan moral pemuda dan kepercayaan Negara.

  • Sebagian Pembelaan Socrates dalam  Apologia.[2]

I will begin at the beginning, and ask what the accusation is which has given rise to this slander of me, and which has encouraged Meletus to proceed against me. What do the slanderers say? They shall be my prosecutors, and I will sum up their words in an affidavit: “Socrates is an evil-doer, and a curious person, who searches into things under the earth and in heaven, and he makes the worse appear the better cause; and he teaches the aforesaid doctrines to others.” That is the nature of the accusation, and that is what you have seen yourselves in the comedy of Aristophanes; who has introduced a man whom he calls Socrates, going about and saying that he can walk in the air, and talking a deal of nonsense concerning matters of which I do not pretend to know either much or little- not that I mean to say anything disparaging of anyone who is a student of natural philosophy. I should be very sorry if Meletus could lay that to my charge. But the simple truth is, O Athenians, that I have nothing to do with these studies. Very many of those here present are witnesses to the truth of this, and to them I appeal. Speak then, you who have heard me, and tell your neighbors whether any of you have ever known me hold forth in few words or in many upon matters of this sort… You hear their answer. And from what they say of this you will be able to judge of the truth of the rest.


[1] Dr. Amroeni Drajat, Suhrawardi: Kritik Falsafah Peripatetik, (Yogyakarta: LKiS, 2005), hal. 3

[2]The Apology of Socrates, translated by Benjamin Jowett. Hal. 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s