Plato

indexSeorang jenius dari Yunani yang mempengaruhi banyak pemikir selanjutnya dan menciptakan karya-karya yaitu Plato, adalah salah satu filosof yang ikut meramaikan dunia pemikiran dan intelektual dan memberikan pengaruhnya bukan hanya di wilayah Barat, namun juga banyak filosof dari Timur terpengaruh atau mengutip pemikiranya.

Plato lahir pada tahun 427/428-348 SM dan pada waktu itu ketika guru favoritnya, Socrates berumur sekitar 42 tahun.Ia terlahir dari keluarga yang ternama yaitu dari ayahnya yang bernama Ariston dan ibunya Perictione. Pengaruh besar dari bentuk pemikiranya adalah dari kehidupannya dan juga pengajaran dari Socrates. Plato mengenal dan menjadi murid Socrates dari sejak usia mudanya, dan dia sangat mencintai gurunya. Ini terbukti jika kita melihat ketika Socrates dijatuhi hukuman matinya, Plato hadir pada saat itu dan juga menyatakan keinginanya untuk menjamin pembayaran dari kebaikanya.[1]Keruntuhan Athena dan eksekusi gurunya Socrates membuatnya putus asa terhadap sistem demokrasi, dan memulai merumuskan konsep baru dari kepempiminan politik yang mana tokoh dengan pengetahuan dikombinasikan secara sesuai.Menuru Plato yang cocok untuk memimpin sebuah Negara adalah yang memang menpunyai pengetahuan yang memadai.

Plato melestarikan metode pengajaran Socrates yaitu menggunakan metode dialektik dengan  menuangkan karya-karya atau tulisanya kedalam bentuk dialog dan menghiasi perhatian moral Socrates dengan membangun sisitem filsafat metafisika dan filsafat alam dan realitasnya. Pada sekitar tahun 387 SM ketika dia berumur kira-kira 40 tahun dan telah menulis sebagian besar dialog-dialognya dia membangun akademi di Athena.Dan ini adalah universitas pertama yang muncul disejarah Europa barat, dan selama 20 tahun Plato mengurusnya dan sebagai direktur disana.

Metode dialog ini adalah metode yang paling vital dalam pengajaran dan penyampaian filsafatnya. Filsafat Plato mengalami tiga masa perkembangan:[2]

Pertama, membahas tentang tema-tema sentral, misalnya tentang mawas diri, persahabatan, keberanian, symposium, apologi, republic, dan hukum.Kedua, membahas tentang teori bentuk.Ketiga membicarakan tentang metodologi, logika, dan semantik.

  • Teori pengetahuan

Plato dalam menjelaskan tentang bagaimana pikiran manusia mencapai pengetahuan itu dengan menggunakan alegori guanya yang terkenal.

Plato meminta kita untuk membayangkan beberapa orang yang hidup disebuah gua yang besar.Sejak masa kanak-kanak merka sudah dirantai kaki dan lehernya sehingga mereka tidak bisa berpindah atau melakukan perpindahan. Karena mereka tidak bisa menengok kebelakang, mereka hanya bisa melihat apa yang ada didepan mereka saja. Dibelakang mereka terdapat elevasi yang muncul dari pernmukaan dimana mereka duduk.Diatas permuakaan itu terdapat orang yang berjalan dibelakang dan dari situ timbul bayangan-bayangan yang mereka bisa menangkap objek yang muncul akibat reflesi dari orang yang berjalan tadi maupun yang lainya.  Kemudian dibelakang orang yang berjalan tadi terdapat api, masih dibelakang lebih jauh itu terdapat sebuah pintu masuk gua tersebut. orang yang dirantai hanya dapat melihat terhadap dinding dan tidak dapat melihat apa yang ada dibelakang mereka. semua yang bisa mereka lihat adalah bayangan yang menempel didinding tersebut. jadi mereka tidak dapat melihat orang yang berjalan dibelakangnya. Ketika mereka melihat dan mendengar gema suara orang yang dibelakang mereka, mereka menganggapnya suara itu berasal dari bayangan.Karena mereka tidak menyadari kehadiran atau eksistensi apapun selain diri mereka sendiri, pada akhirnya mereka menganggap realitas itu hanya adalah bentuk-bentuk bayangan yang ada didinding gua itu.

Kemudian apa yang akan terjadi? Jika salah satu dari mereka dilepaskan rantainya dan dipaksa untuk berdiri berputar dan membuka matanya ke arah cahaya api. Pasti pergerakannya akan teramat sakit karena dia terbiasa terikat dengan rantai. Dan dia dipakasa untuk melihat objek yang tertangkap karena refleksi dari cahaya api yaitu bayangan yang terbiasa dia melihatnya. Dia akan merasa belum terbiasa dengan itu dan akan terelihat silau atau susah untuk memandang kearah cahaya itu, dan mereka akan lebih jelas melihat bayangan itu daripada cahayanya. Dia perlu waktu untuk terbiasa melihat dunia diluar gua. Dan akhirnya ketika sudah terbiasa dia melihat dunia yang berbeda dengan yang ada digua yang selama ini dia lihat, dan ketika dia melihat kedalam gua lagi dia akan mengeahui bahwa ternyata yang selama ini dia lihat adalah refleksi dari bayangan manusia atau sesuatu yang disinari cahaya yang masuk kedalam gua tersebut.

Maka dari itu berdasarkan alegori diatas realitas yang tampak ini adalah sebuah bayangan atau refleksi dari alam ide atau realitas yang sesungguhnya.dan manusia banyak yang masih terikat dialam ini sehingga menganggap dunia yang nampak yang sekarang kita diami ini adalah sebagai realitas yang sesungguhnya. oleh karena itu untuk bisa mencapai realitas yang sesungguhnya kita harus melepas belenggu-belenggu yang ada pada kita yang merantai dan menahan kita untuk melihat kedalam dunia yang hakiki. Karena setelah kita melepas belenggu-belenggu ini baru kita bisa mengetahui realitas tadi serta mencapai pengetahuan yang tinggi dan mengetahui bahwa yang selama ini kita lihat didunia yang tampak ini adalah hanya sebuah refleksi atau bayangan dari realitas yang tinggi.

  • Pemikiran Etikanya

Etika secara bahasa berasal dari bahasa yunani (ethos), dalam pengertian tunggal memiliki banyak arti: adat atau watak atau kesusilaan. Dan dalam bentuk jamak (etha) adat kebiasaan.Namun menurut pendapat para ahli ethos yang diambil dari bahasa yunani adalah tingkah laku.Meskipun banyak pengertian mengenai ethos atau etika, tetapi padasarnya ethos itu sendiri tidak jauh-jauh dari lingkaran seputar perbuatan-perbuatan ahlak seperti kebiasaan dan tingkah laku serta semisalnya.Selain itu juga banyak kata moral yang disandangkan pada yang namanya etika.Artinya sering juga kata moral itu sendiri diidentikan dengan etika.

Namun menurut Istilah, tampak berbeda dengan moral dan akhlak ketika Komarudin Hidayat menyampaikan dalam bukunya Kontekstualisasi Islam dalam sejarah, beliau menjelaskan bahwaetika adalah teori ilmu pengetahuan yang mendiskusikan dan menjelaskan  apa yang baik dan apa yang buruk yang berkenaan dengan kehidupan manusia.

Jadi atas dasar pengertian tersebut dapat ditarik garis batas dan garis hubung antara moral dan etika.Moral yang merupakan aturan-aturan normative yang berlaku di kalangan tertentu yang terbatas oleh ruang dan waktu, yang penetapannya menjadi wilayah antropologi yang menjelaskan tentang perihal perilaku manusia ditinjau dari sisi yang baik dan buruk.Yang mana moral ini merupakan sebagai objek kajian dari etika.Dan jika kita bandingkan etika lebih pada mendekati akhlak sedangkan moral itu lebih pada realitas yang konkrit. Artinya halak itu sendiri lebih tidak hanya berkaitan dengan manusia saja melainkan pada sang pencipta sedangkan moral  hanya pada manusia.

Pendapat diatas juga ternyata selaras dengan apa yang dikatakan oleh Plato dalam pembagiannya yaitu tentang Budi yang bersifat biasa dan budi filosofis. Budi biasa lebih pada hal yang duniawi dan budi filosofis lebih pada hal yang bersifat dengan hal yang metafisik.

Menurut Plato, tujuan hidup manusia adalah memperoleh kesenangan dan kesenangan itu dapat diperoleh dengan pengetahuan (budi). Seperti yang telah dikatakan di atas, ada dua macam budi, yaitu budi filosofis dan budi biasa. Budi filosofis berkaitan dengan alam rohani, sedangkan budi biasa berkaitan dengan keperluan materiil untuk hidup di dunia ini. Jiwa murni semua manusia selalu rindu kepada dunia asalnya, alam rohani. Alam rohani inilah yang hendak dicapai. Plato menyadari bahwa untuk dapat mencapai alam rohani itu, manusia akan menghadapi banyak rintangan/hambatan. Hambatan tersebut berupa materi, meskipun materi dapat disingkirkan, tetapi tidak dapat dihilangkan seluruhnya karena manusia terbatas. Dengan kemampuan intelektual, manusia dapat menyingkirkan hambatan-hambatan tersebut. Itu berarti bahwa manusia dapat mengatasi hambatan yang terdapat pada dirinya sendiri, namun manusia harus berjuang untuk membebaskan rasionalnya dari pengaruh tubuh yang melingkupinya. Hidup selalu diperhadapkan dengan dua pilihan, baik atau buruk. Dari sinilah munculnya teori etika Plato.

Tidak hanya orang-orang islam yang mengatakan bahwa ini sejalan dengan ajaran agama Islam, Orang nasrani pun mengatakan hal tersebut sejalan dengan prinsip Firman Tuhan, yaitu untuk mendapatkan sesuatu ada harga yang harus dibayar. Untuk dapat memperoleh mahkota, harus memikul salib terlebih dahulu.

Dalam al-Kitab dituliskan bahwa Kebahagiaan bukan semata-mata kita dapatkan tanpa usaha. Tetapi, kebahagiaan juga tidak dapat kita beli. Kebahagiaan bisa kita peroleh jika kita berusaha untuk melakukan yang terbaik bukan untuk manusia, tetapi seperti untuk Tuhan. Namun, hidup adalah pilihan dan manusia memiliki kehendak untuk memilih.

Menurut Plato, manusia cenderung pada segala sesuatu yang berfokus pada kebaikan dirinya sendiri dan kurang melihat kebaikan bagi orang lain. Manusia bekerja keras untuk memperoleh kekayaan, reputasi, dan kekuasaan. Ketika manusia tersebut berhasil mendapatkan keinginannya, ia berusaha untuk mencapai keinginannya yang lain. Manusia tidak mengenal kata“puas”. Menurut Plato, manusia itu baik jika ia dikuasai oleh akal budi, sedangkan manusia akan dikatakan jahat jika ia dikuasai oleh hawa nafsu dan keinginan. Jika manusia dikuasai oleh hawa nafsu dan keinginan maka akan menjadi kacau dan tidak teratur. Manusia akan menjadi kacau karena dikuasai oleh sesuatu yang berada di luar diri manusia, bukan dari dalam diri manusia. Manusia tidak dapat mengendalikan diri manusia sendiri, tetapi diombang-ambingkan oleh hawa nafsu yang mana hawa nafsu merupakan sifat hewani. Hal  itu akan membuat manusia menjadi kacau dan terpecah-pecah. Manusia menjadi objek dorongan irasional yang berada dalam diri manusia, bukan menjadi rasional. Dengan menuruti hawa nafsunya, manusia cenderung berbuat jahat dan untuk mengatasinya manusia dituntut untuk bersikap bijak dalam memilih dan mengambil keputusan terlebih dahulu dengan cara menggunakan akalnya dengan baik, Dengan demikian, ia akan dapat mengambil keputusan yang baik pula.

Menurut Plato, baik adalah keselarasan antara wujud sesuatu dengan tujuan diciptakannya. Manusia yang baik adalah manusia yang mampu menyelaraskan kekuatan-kekuatan rasional yang ada pada dirinya dengan cara hidup yang dikuasai oleh akal budi. Hidup rasional adalah hidup yang menyatu dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, jika manusia ingin mencapai hidup yang baik, yang tenang, bersatu, dan terasa bernilai, hal pertama yang harus manusia lakukan adalah membebaskan diri manusia dari kuasa irasional hawa nafsu dan mengarahkannya kepada akal budi. Dengan dikuasai oleh akal budi, manusia akan bisa berfikir secara rasional, kemudian membentuk konsep, dan dari konsep tesebut akan membawa manusia kepada alam nyata. Ini merupakan gambaran dari alam duniawi dan alam rohani. Sedangkan alam nyata yang dimaksud disini adalah alam rohani. Dalam kerangka berpikir Plato, dari yang badani ke jiwani, dari yang jasmani, ke yang rohani. Pada diri manusia terdapat unsur-unsur yang berbeda dan manusia cenderung terjatuh pada unsur yang negatif. Tugas manusia adalah untuk membersihkan pengaruh negatif yang ada di dalam dirinya. Perbedaan hakiki antara manusia dengan binatang adalah pada kapasitas untuk apa ia diciptakan.

Menurut Plato, akal budi adalah kemampuan untuk melihat dan mengerti. Dengan menggunakan akal budi, manusia dapat menjadi selaras dengan alam semesta. Jika manusia dikuasai oleh akal budi, manusia akan menjadi tertata oleh intuisi tersebut. Bila manusia sudah terarah kepada alam idea, maka manusia akan ikut terarah dalam alam idea sendiri. Seperti alam indrawi terarah dalam alam idea-idea, sedangkan alam idea terarah pada idea yang tertinggi. Idea yang tertinggi tersebutlah yang disebut idea dari Sang Baik. Sang Baik adalah dasar dari segalanya. Menurut Plato, Sang Baik tersebut adalah sang Ilahi. Manusia yang baik adalah manusia yang tertarik kepada Sang Baik. Hidup manusia akan semakin bernilai jika ia menarik dirinya lebih dekat kepada nilai dasar, yang di mana nilai tersebut hanya dimiliki oleh Sang Baik. Berdasarkan pada pemikiran tersebut Plato menyimpulkan bawa manusia dapat mencapai puncak eksistensinya jika ia terarah kepada Ilahi.

Sedangkan kekuatan yang dapat menarik manusia tersebut disebut cinta. Karena hal Baik itu baik adanya maka ia yang paling dicintai dan dirindukan oleh ide-ide. Manusia cenderung akan tertarik dengan segala sesuatu yang baik-baik. Ide Sang Baik sendiri adalah dasar segala cinta. Manusia akan mencapai puncak hidup yang etis jika ia sudah dapat menyatukan keseluruhan dari kebaikan objektif, cinta, dan kebahagiaan. Plato menganggap bahwa untuk menggerakkan manusia tidak dibutuhkan paham kewajiban seperti yang dilakukan oleh Kant, tetapi hanya dengan ajakan dan mencicipi sesuatu yang baik tersebut sehingga berangsur-angsur manusia akan lebih memilih yang baik dari pada yang jahat. Menurut Plato, justru manusia yang mengejar yang baiklah yang akan bahagia. Karena kebahagiaan yang sebenarnya adalah ada pada Sang Baik, maka manusia harus mengarahkan diri kepada Sang Baik. Keterarahan kepada Sang Baik tercermin dalam keteraturan jiwanya. Hidup yang rasional dan etis akan membawa rasionalnya sendiri ke dalam dirinya. Manusia akan mencapai kebahagiaan jika ia dapat menyatu dalam cinta Sang Baik.

Menurut Plato, kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang mengantarkan manusia menjadi bijak, berani, mawas diri, dan adil. Kebaikan tertinggi dalam kehidupan ini adalah mengharmonisasikan antara yang ideal dengan kenyataan, yakni mewujudkan keadilan, keberanian, kebaikan, dan kebijaksanaan melalui petunjuk rasio. Kebahagiaan tertinggi terletak dalam kehidupan yang mengarah pada kebaikan tertinggi dan merenungkan ide-ide yang paling tinggi.

Manusia hanya dapat mengaktualkan ketinggian sosialnya dalam pergaulan sesama anggota masyarakat dnegan memberi kontribusi terbaiknya bagi negara dan kesejahteraan sesamanya. Kepuasan tertinggi timbul dari kesadaran bahwa pekerjaan hanya dapat dilaksanakan secara maksimal bila digarap oleh ahlinya. Tiap manusia memiliki bakat masing-masing. Pekerjaan yang tidak baik dikerjakan oleh ahlinya akan membahayakan dirinya dan manusia lain.


[1]Samuel Enoch Stumpf Philosophy History and Problems (United State of America: McGraw-Hill Inc, 1971) hlm 48.

[2]Dr. Amroeni Drajat, M.A Suhrawardi krikit falsafah peripatetic (Yogyakarta, LKis , 2005) hlm 79.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s