Aristoteles

aristotleAristoteles (384-322 SM) ialah filosof besar di zaman klasik sesudah Sokrates dan Plato. Ia berasal dari keluarga mampu karena ayahnya menjadi seorang dokter terkenal dan menjadi dokter pribadi raja Makedonia saat itu. Dahulu ia dikirimkan oleh ayahnya untuk belajar di Akademia milik Plato selama kurang lebih dua puluh tahun yang berlokasi di Athena. Saat itu umurnya kira-kira 18 tahun.

Aristoteles berasal dan dilahirkan di Stagira (wilayah Yunani Utara sekitar Makedonia).Dan ia pun menjadi salah satu murid terbaik di Akademia saat itu. Ia sangat menghormati gurunya—Plato—yang saat itu berumur 61 tahun, namun di samping penghormatannya terhadap sang guru. Ia pula menjadi sesosok manusia yang lebih mengunggulkan kebenaran di atas segala-galanya. Sehingga ia lebih tertarik untuk menemukan kebenaran hakiki dengan caranya sendiri.

Setelah sepeninggalan Plato, Aristoteles berpindah dan membuat sekolah di Assos (Asia kecil). Kemudian tahun 342 SM filosof agung ini kembali ke kota kelahirannya di Makedonia untuk menjadi pendidik pangeran Alexander Agung. Setelah Alexander sudah dirasa mampu oleh ayahnya untuk menggantikan kedudukan dalam memimpin negara yang nantinya akan berpengaruh dalam periode Helenisme, Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan sekolah Lykeion yang beraliran Peripatetic di sana.Sejak saat itu Aristoteles menjadi filosof besar di Athena yang menjadi pusat kebudayaan Yunani ketika itu.

Tulisan Aristoteles kering dan kaku seperti kebanyakan ensiklopedia, berbeda dengan sang guru—Plato—yang sastrawis.[1]

Ini menandakan pula bahwa ia adalah seorang empirisme sejati, organisator, dan ahli ilmiah seperti para peneliti di lapangan. Dan tidak pula menggunakan metode dialektik seperti Sokrates dan Rasionalis seperti sang guru Plato sebagai seorang penyair dan ahli mitologi. Di samping jati dirinya sebagai sesosok filosof besar terakhir kala itu, ia pula seorang ilmuan hebat, buktinya ia merupakan pakar biologi besar di Eropa yang pertama.

Hasil karya Aristoteles sangatlah banyak.Ada pembagian 8 permasalahan dalam semua karyanya yang berjumlah kira-kira 170 judul, antara lain logika, filsafat alam, psikologi, biologi, metafisika, etika, politika, ekonomi.Dan masing-masingnya pun memiliki sub-bab lagi.Namun, yang ingin kita bahas dan dalami berkenaan dengan karya Aristoteles hanya seputar logika, metafisika, estetika, dan etikanya.

  • Kaca mata Aristoteles untuk mengkritik Plato

Plato memiliki paham rasionalis sekaligus dualis.Sedangkan Aristoteles memiliki paham empiris.Walaupun keduanya memiliki hubungan guru dan murid, namun Aristoteles berani menerbitkan suatu pandangan yang berbeda.Di sini mungkin dipahami karena prinsip Aristoteles yang mengunggulkan kebenaran di atas segala-galanya dan kritis. Meski telah banyak belajar dengan sang guru yang mulia itu.

Seperti kebanyakan para filosof sebelumnya, Plato ingin sekali menemukan sesuatu yang abadi dan kekal diantara semua perubahan yang terjadi pada alam, misalnya siang dan malam, air dibekukan menjadi es, api yang membakar, dll. Dan akhirnya ia menemukan bahwa ide lah yang sempurna dan lebih unggul daripada dunia indra ini.

Plato tampak begitu keasyikan dengan bentuk-bentuk kekal, atau ide-ide. Sehingga dia tidak memperhatikan perubahan-perubahan dan proses yang terdapat pada alam. Untuk semakin melebih-lebihkannya, dapat dikatakan bahwa Plato telah meninggalkan dunia indra dan menutup mata terhadap segala sesuatu yang kita lihat di sekeliling kita. Dan Aristoteles sebaliknya, dia terjun dalam-dalam dan menelaah katak dan ikan, aneka bunga dan pohon.[2]

Plato berpendapat pula jika ada dua macam dunia, yaitu dunia inderawi yang serba berubah, serba jamak, tiada kesempurnaan.Dan dunia idea yang tidak adanya perubahan, tidak ada kejamakan, kekal.Hubungan antara kedua dunia ini adalah bahwa ide-ide dari dunia atas itu hadir dalam benda konkrit. Sehingga ibaratnya, ide dijadikan sebagai model atau contoh benda-benda yang kita amati di dunia nyata.[3]

Dan dunia ide terdiri dari banyak ide, tidak hanya satu ide.Seperti contohnya ide manusia, ide binatang, ide tumbuhan, dll.Dan hubungan antara ide-ide ini disebut koinonia atau persekutuan.Dan hubungan ini pula meniscayakan hierarki dan puncak dari hierarki segala macam ide adalah ide “yang baik”.

Plato beropini bahwa ide itu lebih nyata dibanding semua fenomena alam.Sehingga mula-mula muncul ide ayam daripada semua ayam dan telur di dunia indera.Namun, Aristoteles menyanggahnya dalam masalah ide.Dia memang setuju kalau ayam itu selalu berubah dan mengalami kematian.Sedangkan bentuknya itu kekal dan abadi.Tetapi bagi Aristoteles, ide ayam itu hanya sebuah konsep yang dibentuk oleh manusia setelah melihat sejumlah kuda di dunia indera.Dan ide itu tidak memiliki eksistensi tersendiri.

Mudahnya, bagi Aristoteles ide itu ada dalam benda-benda sebab mereka merupakan ciri khas dari benda-benda tersebut.Sebagaimana tubuh dan jiwa dalam pandangan Aristoteles yang bisa bersatu dan tidak dapat dipisahkan.

Tingkat realitas tertinggi bagi Plato adalah sesuatu yang kita pikirkan dengan akal kita.Dan semua benda di dunia alam ini hanya semata-mata cerminan dari benda-benda di dunia ide yang diidentikan dengan jiwa manusia.Dan bagi Aristoteles, tingkat realitas tertinggi adalah sesuatu yang kita lihat dengan indera kita.Benda-benda yang ada di jiwa manusia semata-mata hanya cerminan dari objek-objek alam. Makanya ia menganggap Plato berpikiran ranah imajinasi.

Aristoteles berpendapat bahwa seluruh pemikiran dan gagasan kita masuk ke dalam kesadaran kita melalui apa yang pernah kita dengar dan lihat. Namun kita juga mempunyai kekuatan akal bawaan bukan ide bawaan seperti yang diyakini Plato.Tetapi kita mempunyai kemampuan bawaan untuk mengorganisasikan seluruh kesan inderawi ke dalam kategori-kategori dan kelompok-kelompok. Dengan cara inilah konsep-konsep benda timbul.

Jadi,titik beda pandangannya dengan sang guru terhormat Plato bahwa ketika Plato mengatakan realitas tertinggi adalah apa yang kita pikirkan dengan akal. Dan benda-benda di alam semata-mata cerminan dari benda-benda di dunia ide belaka. Misalnya, ide sebuah ayam akan muncul lebih dahulu sebelum selanjutnya nampak ayam dalam alam nyata. Dan antara keduanya—ide ayam dan ayam—berpisah.

Sedangkan sang murid tercinta Aristotelesmengatakan bahwa benda-benda di dunia ide atau yang ia pahami adalah jiwa hanyalah sebuah cerminan dari benda-benda di alam—dunia yang nyata. Maksudnya ialah sebuah gagasan kita masuk ke dalam kesadaran kita melalui apa yang pernah kita dengar dan lihat di alam nyata. Kita tidak punyaide bawaan.Tetapi kita punya akal bawaan yang punya kemampuan untuk mengorganisasikan seluruh kesan inderawi ke dalam kategori-kategori, sehingga muncul banyak konsep.Dan akal kita awalnya kosong sampai kita mengalami sesuatu.

Ringkasnya, menurut Aristoteles ini, antara ide dan benda alam nyata tidak terpisah seperti tubuh dan jiwa.Namun ide ada di dalam benda dan merupakan ciri khas benda.Misalnya, ide ayam ada dalam ayam itu sendiri.

  • Metafisika Aristoteles

Pengkritikan mengenai ide di atas pula sangat berkaitan dengan metafisikanya.Mengenai metafisika atau filsafat pertama, di sini Aristoteles mengkritik Plato. Menurutnya, ide-ide sama sekali tidak membantu kita untuk mengenali benda-benda ataupun yang ada. Sebab ide-ide tidak terdapat pada benda-benda tersebut.Jadi hakikat benda-benda itu ada dalam benda itu sendiri yaitu prinsip metafisik yang terdapat pada materi (hyle) dan bentuk (morphe).Materi adalah potensi untuk menerima salah satu bentuk.Dan bentuk adalah prinsip yang memberi aktualitas pada materi.

Materi di sini bukan dalam pengertian materi yang berlawanan dengan jiwa, akan tetapi materi yang berlawanan dengan forma atau bentuk. Sama seperti kasus universalitas dan partikularitas di atas, persoalannya pada mulanya sederhana.Yakni pilihan Aristoteles menarik garis demarkasi atau pembedaan antara forma atau bentuk dengan materi.Seperti yang dicontohkan Bertrand Russell, tentang sebuah arca yang terbuat dari pualam.Dalam hal ini pualam adalah materi, sementara bentuk arca yang diciptakan oleh seorang pemahat merupakan forma.Atau mengambil contoh dari Aristoteles, jika seorang membuat bola perunggu, maka perunggu adalah materi, dan sifat kebolaan atau bundar adalah forma. Dalam kasus lain, kita bisa mengatakan bahwa paku yang bentuk bulat-lonjong adalah paku. Baja yang merupakan bahan dari paku adalah materi, sementara bulat-lonjong yang merupakan dimensi dari paku adalah forma.[4]

Dalam pandangan Aristoteles, berkat forma, materi bisa menjadi suatu tertentu, dan inilah substansi sesuatu.Sesuatu materi harus terbatas, dan batas inilah yang dia sebut formanya.Kita tidak bisa melihat materi tanpa sekaligus melihat formanya.Karena forma adalah aktualitas dari setiap materi yang ditangkap oleh indera.Perubahan dari pualam menuju arca adalah perubahan forma, yang dengan itu berarti merupakan perubahan dari potensialitas menuju aktualitas.Sebab, dalam bagian tertentu, pualam tadi tidak mengalami perubahan seperti keadaannya semula sebagai bongkahan batu.

Ketika dikaitkan dengan jiwa dan tubuh. Menurut Aristoteles, jiwa terikat dengan tubuh. Jiwa tidak terpisah dari tubuhnya.Tubuh dan jiwa saling berkaitan sebagai materi dan forma.Jiwa adalah substansi atau aktualitas, keapaan essensial, penyebab final atas tubuh. Dan jiwa adalah sesuatu yang menggerakkan tubuh dan mempersepsi objek-objek inderawi, ia dicirikan oleh kemampuan memelihara diri, merasa, berpikir, dan berkehendak. So, jiwa adalah forma tubuh.

Sedangkan akal adalah lebih tinggi dari jiwa dan kurang terikat dengan tubuh.Ia bagian dari kita yang dapat memahami matematika dan filsafat, apa yang menjadi objeknya bersifat kekal. Ia bisa berpikir lebih besar tanpa berkaitan dengan tubuh atau indera. So, akal adalah jiwa rasional bersifat ilahi dan impersonal.

Prinsip hylomorfisme sangat berkaitan dengan empat prinsip utama yang menyebabkan suatu kejadian atau penampakan di seluruh dunia ini.Empat prinsip itu adalah pertama, formal (bentuk yang menyusun bahan), contohnya bentuk kursi yang ditambahkan ke kayu.Kedua, final (tujuan kejadian), contohnya kursi digunakan untuk duduk dan beristirahat jika lelah.Ketiga, efisien (motor yang menjalankan kejadian), contohnya tukang pembuat kursi dari kayu.Dan keempat, material (bahan untuk kejadian), contohnya kayu, paku, rotan, dan tali.

  • Logika Aristoteles

Sepuluh kategori menurut Aristoteles, antara lain: substansi (manusia, binatang, dll), kuantitas (dua, tiga, sepuluh, dll), kualitas (putih, busuk, dll), relasi (rangkap, separoh, dll), tempat (di pasar, di rumah, dll), waktu (kemarin, sekarang, besok, dll), keadaan (duduk, berdiri, dll), mempunyai (bersepatu, bersuami, dll), berbuat (mengiris, membakar, dll), menderita (terbakar, terpotong, dll).

Aristoteles meyakini adanya perbedaan antara bentuk dan substansi.Kita melihat banyak kuda. Kuda-kuda itu tidak persis sama, tetapi mereka memiliki kesamaan dalam suatu hal yaitu bentuk. Dan sesuatu yang membedakan mereka satu sama lain adalah substansi.

Seperti halnya kita membedakan benda-benda yang terbuat dari batu, wol, kain, kayu, benda hidup, benda mati, tanaman, manusia, dan sebagainya.Aristoteles ingin membuktikan bahwa segala sesuatu di alam termasuk dalam kategori dan subkategori yang berbeda-beda.

Sehingga Aristoteles disebut seorang organisator yang ingin meneliti dan menjernihkan konsep-konsep kita dengan ilmu logikanya.Selain ini, ada pula silogisme Ada pemikirannya mengenai silogisme yang merupakan puncak logika dari Aristoteles.Ini adalah sebuah penyimpulan dengan menggunakan penalaran dari dua premis atau pertimbangan.Silogisme terdiri dari 3 bagian, yaitu mayor, minor, dan kesimpulan.

•           Pemikiran Aristoteles mengenai Etika

Aristoteles menguraikan pendiriannya tentang etika dalam tiga karya : Ethica Nicomachea, Ethica Eudimia, Magno Moralia. Namun karya terakhirnya dianggap tidak otentik, hanyalah Ethica Nicomachea yang menemui pemikirannya lebih matang dalam bidang etika. Dalam hal ini, akan sedikit diuraikan mengenai etika dalam karyanya Ethica Nichomachea ini.

Etika Aristotle adalah Teleologikal, berfokus dengan tindakan untuk menghasilkan kebaikan manusia. Tindakan yang berlawanan dengan pencapaian dari kebaikan dirinya yang sesungguhnya akan menjadi tindakan yang salah.

Teori Aristoteles mengenai moral berpusat disekitar keyakinannya bahwa manusia itu memiliki tujuan khusus untuk mencapai dan memenuhi fungsinya. Ia memulainya pada Nicomachean Ethics dengan mengatakan bahwa “ setiap seni dan setiap penyelidikan, dan juga setiap tindakan dan pengejaran, sudah pasti bertujuan untuk suatu kebaikan”. Namun, jika memang demikian, pertanyaan untuk etika adalah, “ kebaikan seperti apakah yang kemudian menjadi tujuan tindakan manusia?” Bagi Aristotle, prinsip dari kebaikan dan kebenaran sebenarnya sudah tertanam pada setiap orang. Apalagi, prinsip ini dapat ditemukan dengan mempelajari hakikat manusia dan dapat dicapai melalui sikap yang actual di kehidupan sehari-hari. Aristotle memperingatkan bahwa, karena materi mengenai ini rentan terhadap variasi dan kesalahan, bukan berate bahwa kesalahan dan kebenaran itu hanya secara kesepakatan saja dan bukan termasuk hakikat sesuatu. Aristotle mulai menemukan dasar moral dalam struktur hakikat manusia.

a.         Tipe-tipe dari Tujuan

Sebagaimana yang dikatakan bahwa seluruh tindakan itu akan mengarah pada sebuah tujuan, maka Aristotle membedakan dianara dua macam tujuan yang penting, yang disebut dengan tujuan instrumental (instrumental ends), yakni tindakan yang telah dilakukan dalam arti untuk tujuan yang lainnya, dan tujuan intrinsic, yakni tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk dirinya sendiri. Contonya, seorang dokter itu memenuhi fungsinya dalam tingkat ia menjaga para tentara dalam kondisi yang sehat. Namun ‘sehat’ dalam hal ini menjadi sebuah maksud untuk sebuah pertempuran yang efektif. Ketika kita menemukan apakah tujuan orang-orang itu, bukan sebagai tukang kayu, dolter atau yang lainnya, namun sebagai seorang manusia , maka kemudian kita akan sampai pada sebuah tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk dirinya sendiri, dan untuk seluruh aktivitas lainnya hanyalah merupakan satu maksud, dan ini, Aristotle mengatakan “pastilah kemanusiaan yang baik”.

Lalu, bagaimanakah seharusnya kita memahami kata ‘baik’ itu?Dalam hal ini, sebagaimana Plato, Aristotle mengaitkan kata ‘baik’ pada fungsi special dari sesuatu.Aristotle membedakan antara sebuah kreasi manusia/profesi dan aktivitas seseorang sebagai seorang manusia. Contohnya, Aristotle merasa telah menjadi dokter yang baik bukan berarti sama halnya sebagai seorang yang baik, dan juga sebaliknya. Terdapat dua fungsi dalam hal ini, yakni fungsi dari menjadi dokter (merawat atau mengobati), dan fungsi dari bertindak sebagai manusia. Seorang yang baik menurut Aristotle , adalah orang yang memenuhi fungsinya sebagai manusia.

b.         Fungsi dari Manusia

Menurut Aristotle, tujuan dari manusia adalah tidak hanya “sekedar hidup belaka”, karena secara sederhana  hal itu bahkan bisa dibagi oleh sayur-sayuran, dan Aristotle mengatakan “kita menginginkan apa itu kesempurnaan pada manusia.” Selanjutnya ada kehidupan dari mengindra, “namun lagi, hal ini menunjukkan keumuman pada kuda-kuda dan binatang-binatang lainnya.Hal yang tersisa selanjutnya ialah “sebuah hidup yang aktif dari elemen yang memiliki prinsip rasional”. Dia berpendapat lebih jauh lagi bahwa, “apabila fungsi dari manusia adalah sebuah aktivitas dari jiwa yang mengikuti prinsip rasional…. Maka kebaikan manusia muncul menjadi aktivitas jiwa yang berdasar pada kesempurnaan/kemuliaan (virtue).”

Seseorang adalah cerminan dari jiwanya.Aristotle mengatakan bahwa jiwa itu dibagi menjadi dua bagian, yakni yang rasional dan irrasional.Bagian yang irrasional disusun dari dua subbagian.Yang pertama adalah sebagaimana tumbuhan, yakni terdaoat komponen tumbuhan yang memberikan kita kapasitas untuk mengambil dan menyerap nutrisi dan memenuhi kehidupan biologis kita. Yang kedua adalah sama dengan hewan, ada komponen appetitive yang memberikan kita kapasitas untuk mengalami hasrat yang membuat kita bergerak cepat untuk memenuhi hasrat itu. Kedua jiwa irrasional ini cenderung berlawanan dan menentang jiwa yang rasional.Konflik di antara jiwa rasional dan jiwa irrasional lah yang memunculkan masalah mengenai moral juga baik dan buruk.

Moral juga meliputi tindakan. Tindakan-tindakan particular yang diartikan di sini merupakan control jiwa rasional dan petunjuk untuk bagian jiwa yang irrasional .orang yang baik, menurut Aristotle, adalah orang yang baik secara seluruhnya, bukan hanya diwaktu-waktu tertentu, seperti sekarang baik dan di waktu berikutnya tidak.

c.         Kebahagiaan sebagai Tujuan

Dimanapun setiap orang akan mengarah pada kebahagiaan, kekayaan, dan kehormatan. Meskipun tujuan-tujuan ini memiliki beberapa tipe nilainya, namun mereka bukanlah kebaikan utama yang harus mereka tuju. Agar menjadi tujuan paling utama, sebuah tindakan haruslah cukup pada dirinya dan merupakan sebuah final (self-sufficient dan final), “bahwa yang selalu berhasrat pada dirinya itu dan tidak pernah untuk kepentingan hal lain”, dan hal itu haruslah dapat dicapai oleh semua orang, Aristotle yakin bahwa semua orang akan sepakat bahwa kebahagiaan merupakan tujuan yang pada dirinya menemukan semua persyaratan untuk tujuan paling utama dan sempurna dari tindakan manusia. Memang, kita memilih kesenangan, kekayaan, dan kehormatan hanya karena kita berpikir bahwa “melalui instrument-instrumen itu, kita akan bahagia.” Sebenarnya kebahagiaan sendiri nama lainnya ialah kebaikan, kebahagiaan merupakan pemenuhan dari fungsi khusus kita. Sebagaimana yang dikatakan Aristotle, “ Kebahagiaan adalah sebuah kerja jiwa berdasarkan kemuliaan atau kesempurnaan (excellence or virtue)”.

Bagaimanakah jiwa mampu mencapai kebahagiaan? Peran umum dari moral adalah “ untuk bertindak dan bersinergi dengan akal sehat” maksud dari kalimat ini adalah bahwa jiwa rasional haruslah mengontrol jiwa yang irrasional. Sudahlah jelas bahwa jiwa irrasional membutuhkan petunjuk ketika kita mempertimbangkan apakah hal itu terdiri dari apa dan apakah mekanismenya. Ketika kita lihat pada hasrat kita, kita menemukan pertama kali bahwa mereka terpengaruh oleh hal-hal dari luar diri kita, seperti objek-objek dan orang-orang. Dan juga terdapat dua cara dasar dimana daya hasrat mereka bereaksi akibat faktor-faktor luar ini – cara-cara ini adalah mencintai (concupiscent) dan membenci (trascible passion). Cinta mengarahkan kita pada untuk berhasrat pada benda-benda dan manusia, sedangkan benci mengarahkan kita untuk mencegah padanya dan menghancurkannya.Hal itu menjadi nyata dengan cepatnya bahwa hasrat-hasrat ini (cinta dan benci) dapat dengan mudah menjadi liar (tidak terkontrol) ketika diambil begitu saja oleh diri mereka.Dalam diri mereka, mereka tidak terdiri dari prinsip apapun mengenai seleksi atau pengukuran.Apakah yang seharusnya manusia hasratkan?Seberapa banyak? Dalam kondisi apa?

Kita tidaklah secara otomatis bertindak dengan cara yang benar dalam persoalan-persoalan ini. Sebagaimana yang Aristotle katakana, “ tidak ada moral kemuliaan muncul sendirinya pada kita secara alamiah; untuk hal-hal yang tidak ada dan ada secara sendirinya secara alamiah dapat membentuk kebiasaan yang berlawanan dengan hakikatnya sendiri.” Moral haruslah dilakukan dengan pengembangan kebiasaan, kebiasaan berpikir benar, pilihan yang benar, dan sikap yang benar.

d.         Kesempurnaan (virtue) sebagai pertengahan (tindakan tengah) emas (Golden Mean)

Hasrat manusia adalah mampu melakukan berbagai tindakan, dari cara-cara yang terlalu kekurangan hingga terlalu kekurangan. Mempertimbangkan hasrat/ nafsu makan kita pada makanan, pada sisi yang satu kita bisa didominasi oleh nafsu makan yang berlebihan untuk makan, sedangkan di sisi lain kita bisa sangat kurang nafsu makan. Tindakan yang tepat yang dilakukan- adalah tindakan virtue (mulia) – adalah pertengahan antara kelebihan dan kekurangan, keterlalu banyakkan dengan kesedikitan.Kita haruslah mencari pertengahan ini dengan seua hasrat kita, seperti takut, percaya diri, marah, menderita, senang, dan lain-lain.Ketika kita gagal untuk mencapai pertengahan ini, maka kita menunjukkan diri kita pada sifat buruk yang berlebihan atau sifat buruk dari terlalu kekurangan. Kita mengendalikan hasrat kita melalui kekuatan rasional dari jiwa, dan oleh karenanya kebiasaan yang membentuk kesempurnaan lah yang akan membimbing kita secara spontan kepada tindakan pertengahan. Kemuliaan dari ‘keberanian ‘untuk contoh misalnya berada di antara dua sifat-sifat buruk, yakni sifatpengecut dan terburu-buru .olehlah karenanya kemuliaan adakah kebiasaan dalam memilih berdasarkan pada pertengahan.

Namun, Pertengahan ini tidak selalu sama bagi setiap orang, tidak pula meski apakah ada sebuah pertengahan untuk setiap tindakan. Pertengahan itu tergantung pada tingkatan orangnya dan kondisinya. Dalam hal makan, pertengahannya jelas akan berbeda untuk seorang atlet dewasa dan anak kecil. Namun bagi setiap orang, terdapat pertengahan yang relative, yang merupakan kemuliaan dari temperance.Hal ini berada diantara dua sifat buruk, dinamakan berlebih-lebihan dan kekurangan.Sama seperti ketika memberikan uang, kemurahan hati adalah pertengahan diantara sifat buruk boros dan kekikiran (pelit). Namun meskipun banyak kemuliaan yang berdiri diantara dua sifat yang buruk, terdapat beberapa tindakan yang tak memiliki pertengahan sama sekali. Mereka memang sudah secara alamiah sebagai keburukan, seperti sombong, zina, mencuri, mempbunuh, dll.Semua ini sudah buruk pada diri mereka sendiri dan tidak ada keurangan dan kelebihan pada keduanya.

Kemuliaan/kesempurnaan moral, kemudian, terdiri dari pengembangan kebiasaan yang secara spontan akan membuat kita cenderung mengambil tindakan tengah – atau sederhananya mencegah tindakan jelek dalam kasus seperti tindakan pencurian dan pembunuhan.

e.         Pertimbangan dan Pilihan

Terdapat dua macam pertimbangan dengan jiwa yang rasional.Yang pertama adalah teoritis, yakni yang memberikan kita pengetahuan-pengetahuan dan psinsip-prinsip yang pasti atau kebijakan filosofis.Yang lainnya adalah praktek, yakni yang memberikan kita pengarahan rasional untuk tindakan moral kita untuk kondisi-kondisi tertentu, dan ini merupakan kebijakan praktis.Apa yang menjadi peran penting reason (akal) adalah, apabila kita tidak memilikinya, maka kita tidak memiliki kapasitas-kapasitas apapun. Kita memiliki kapasitas untuk berbuat baik, tapi kita mampu melakukan atau berbuat baik itu tidaklah terjadi secara alamiah. Karena kita harus menggerakkan potensi kita agar menjadi actual dengan mengetahui apa yang harus kita lakukan, kita mempertimbangkannya dengan hati-hati, kemudian kita memilihnya. Aristotle mengatakan bahwa asal muasal dari tindakan moral adalah pilihan dan asal dari pilihan itu hasrat dan akal.

•           Filsafat Seni Aristoteles (Estetika)

Aristoteles memiliki rasa ketertarikan pada seni lebih jauh daripada Plato.Karya utama Aristoteles tentang estetika adalah Poetics.Poetics ditujukan untuk menanggapi kritik Plato tentang poetry (puisi).Plato menyebut tentang ‘mimesis’ dalam Republic untuk menjelek-jelekkan seniman dan penyair.Mimesis berarti 3 langkah mundur (menjauh) dari kebenaran.Menurutnya, Realitas sesungguhnya dari manusia adalah form kemanusiaannya. Tiruan dari form ini adalah manusia partikular, misal Socrates. Patung atau foto dari Socrates sebagai contohnya, maka adalah tiruan/kopian dari kopian.

Dalam Poetics, Aristotle menekankan aspek kognitif dari poetry dengan membandingkan poetry dan sejarah. Tidak seperti para sejarawan yang hanya focus pada peristiwa-peristiwa atau orang-orang particular, puisi berhubungan dengan hakikat dasar manusia, dan karenanya itu merupakan pengalaman yang universal. Perbedaan yang paling mencolok diantara keduanya ialah bahwa sejarah berhubungan dengan apa yang sudah terjadi, sedangkan poetry mempertimbangkan apa yang bisa terjadi. Poetry karenanya lebih filosofis dan merupakan hal yang lebih tinggi dari sejarah.Karena poetry cenderung mengekpresikan yang universal, sedangkan sejarah mengekspresikan yang particular.

Jadi, sebaliknya Aristoteles justru menyakini bahwa form universal itu eksis pada hal-hal partikular.Jadi para seniman berurusan langsung dengan universal itu ketika mereka mempelajari tentang benda-benda dan menerjemahkannya menjadi bentuk-bentuk seni. Jadi karena seni adalah meniru alam, justru ia mengkomunikasikan informasi tentang alam, berbeda dengan yang dikatakan oleh Plato sebelumnya.

Dalam nilai kognitifnya, seni mencerminkan pandangan psikologis yang signifikan yang dapat dipertimbangkan.Salah satunya, seni itu merefleksikan kedalaman dari hakikat wajah manusia yang membedakan manusia dengan hewan.Dan hal ini sudah menjadi instink yang tertanam untuk imitation (imitasi).Imitation bagi Aristotele adalah suatu hal yang natural bagi manusia. Karena memang, bahkan dari sejak kita masih kanak-kanak, kita belajar melalui cara imitasi. Dan berarti juga natural bagi manusia untuk menyukai karya-karya imitasi.Pictorial art (seni gambar/ilustrasi) menunjukkan mood mental atau moral melalui external factors misalnya, gerak-gerik (gesture) dan karakter (complexion).Musik pada dirinya sendiri memuat imitasi moral moods.Musik punya kegunaan untuk pendidikan generasi muda, musik memiliki kekuatan untuk membentuk karakter.

Hal ini memperlihatkan bahwa bagi Aristoteles, seni memiliki fungsi moral dan pendidikan serta rekreatif.Namun, fungsi rekreasi ini tidak dimaksudkan dalam bentuk kenikmatan inderawi (sense-pleasure) melainkan lebih tinggi dari itu.

Di antara berbagai macam seni yang Aristoteles bahas, Tragedylah yang mengambil porsi terbanyak. Tragedy adalah imitasi dari sebuah tindakan (action) yang serius dan juga, memiliki magnitude (sesuatu yang mendalam), lengkap  pada dirinya sendiri, ia secara particular menekankan aspek emosional dari tragedy, berpusat pada dugaan dari pembersihan (catharis), yakni pembersihan dari emosi-emosi yang tidak menyenangkan.

Karakter tragedy  adalah “serius”, “mulia (noble)”, dan “baik (good)”, dan maksud dari lengkap pada dirinya (Complete in itself)  adalah karena memiliki awal (beginning), pertengahan (middle), sebagai keseluruhan organis. Kesatuan plot (alur) merupakan satu-satunya kesatuan yang sangat dituntut oleh Aristoteles, “language with pleasurable accessories” : dengan ritme dan harmony atau lagu tambahan, beberapa bagian ditampilkan dengan syair saja, dan yang lain dengan lagu. Ia dalam bentuk dramatis bukan naratif, mengandung Catharsis, yakni tujuan psikologis yang ingin dicapai dari tragedy.

Nampaknya Aristotle hendak mengatakan bahwa representasi seni dari kedalaman dan penderitaan yang hebat menampilkan pada audiens terror yang nyata dan keibaan.Karenanya, menimbulkan pembersihan dalam sense penyucian jiwa-jiwa para audiens. Jadi, Aristotle mengatakan bahwa “ Tragedi adalah sebuah imitasi dari tindakan… melalui rasa keibaan dan ketakutan yang berefek pada pembersihan yang benar atas emosi-emosi itu.


[1] Tjahjadi, Simon Petrus L. 2008. “Petualangan Intelektual”. Cet 5. Hlm 64. Kanisius: Yogyakarta.

[2] Gaarder, Jostein. 2003. “Dunia Sophie”. Cet 8. Hlm 125-126. Mizan: Bandung.

[3] Hadiwijono, Harun. 2005. “Sari Sejarah Filsafat Barat 1”. Cet 23. Hlm 41. Kanisius: Yogyakarta.

[4] Russel, Betrand. 2002. “Sejarah Filsafat Barat”. Cet 1. Hlm 223. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s