UTILITARISME

 

imagevgbhnm

 1.  Pengertian dan Penjelasan Utilitarisme

Kata utilitarisme berasal dari bahasa latin yaitu “utilis” yang  berarti berguna. Utilitarisme merupakan suatu paham yang ingin menyamakan kebaikan moral dengan manfaat. Utilitarisme juga dikenal sebagai “etika sukses” karena menilai kebaikan orang dari apakah perbuatannya menghasilkan sesuatu yang baik atau tidak.

Utilitarisme adalah agar kita semua berbuat suatu tindakan yang sedapat mungkin memberikan kebahagiaan bagi orang banyak. Maka dari itu utilitarisme adalah suatu etika tingkat tinggi. Menurut utilitarisme kita harus bertindak sesuatu hal yang menghasilkan akibat baik dan sedapat mungkin menghindari atau mengalahkan akibat-akibat buruk. Ciri khas dari utulitarisme adalah bahwa akibat-akibat baik itu tidak hanya dilihat dari kepentingan diri sendiri, melainkan dari aspek kepentingan orang banyak yang akan terkena dengan akibat baik dari  tindakan tersebut. Dengan kata lain, utilitarisme tidak termasuk kelompok etika egois.

Utilitarisme menegaskan bahwa dalam segala tindakan yang kita perbuat  harus memperhatikan akibat-akibat baiknya bagi semua orang yang secara langsung atau tidak langsung terkena oleh tindakannya. Utilitarisme sering digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari khusunya dalam pengambilan kebijaksanaan politik. Utilitarisme menuntut agar selalu memilih alternative yang menghasilkan akibat-akibat positif sebanyak mungkin daripada akibat-akibat negatife.

2.  Prinsif-prinsif Utilitarisme

a.  manusia wajib berusaha untuk melakukan sesuatu tindakan yang menghasilkan akibat-akibat yang lebih banyak kebaikannya dan menghindarkan akibat-akibat buruk.

b. utilitarisme bersifat universal, karena yang menjadi norma moral bukanlah akibat-akibat bagi si pelaku itu sendiri melainkan akibat-akibat baik di seluruh dunia.

c. tidak berpedoman pada kebenaran fitrah atau kebenaran hakiki. Contohnya, menurut moral tradisional bahwa bohong itu tidak boleh. Namun menurut utilitarisme kita bisa berbohong apabila kebohongan itu akibat-akibatnya baik daripada akibat-akibat kebenarannya.

3.  Kelebihan (jasa) Prinsif Utilitarsime

Kelebihan utilitarisme terletak dalam rasionalits dan universalitasnya. Utilitarisme tidak bertindak atau bekerja dengan peraturan-peraturan yang tidak dapat kita terima. Karena setiap keputusan utilitarisme memberikan alasan yang jelas. Utilitarisme memberi dan menuntut agar diberikan alasan-alasan yang rasional, ia membuka pemilihan keputusan moral pada dialog dan argumentasi. Orang dapat melihat dulu semua segi yang relevan, baru ia akan mengambil keputusan. Utilitarisme perspektifnya tidak egois melainkan universal, serta wawasannya secara hakiki dan bersifat sosial.

4.  Kekuarangan Prinsif Utilitarsime

a.   utilitarisme tidak dapat menjamin keadilan, karena faham keadilan justru lahir dari hukum untung dan rugi murni, bukan berdasarkan keadilan yang sebenarnya. Karena inti tuntutan keadilan adalah demi tujuan apapun hak seseorang tidak boleh dilanggar. Sedangkan utilitarisme tidak melihat aspek tersebut.

b.   utilitarisme tidak menjamin hak-hak manusia, terutama hak asasi. Hak asasi manusia mutlak harus dihormati karena yang melekat pada manusia bukan diberikan oleh salah satu lembaga, melainkan berdasarkan manusia sebagai manusia.

5.  Kritik Penulis Terhadap Utilitarisme

Setiap suatu paham pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, begitupun dengan prinsif utilitarisme. Prinsif ini sangat bagus karena suatu tindakan yang tidak hanya memikirkan akibat baik bagi pelakunya sendiri, melainkan bagi kepentingan atau kebahagiaan orang-orang yang lebih banyak. Utilitarisme selain memberi akibat baik individu yang melakukannya juga memberikan akibat baik secara universal.

Namun banyak kekuarang dalam prinsif utilitarisme ini, karena utilitarisme tidak mementingkan nilai benar melainkan nila untung. Sedangkan dalam islam kita tidak boleh menukar nilai kebenaran dengan nilai untung. Dan biasanya jika nilai untung yang menjadi tolak ukur suatu tindakan atau keputusan hanya akan menguntungkan orang-orang kaya dan akan menderitakan orang-orang miskin. Dan akan terjadi ketidakadilan dalam tindakan tersebut.

Selain tidak menjamin pada ketidak adilan, utilitarisme juga tidak menjamin pada hak-hak manusia. Sebagaimana tadi dijelaskan bahwa yang melakukan tindakan utilitarisme adalah banyak dari penguasa atau orang kaya, maka yang menjadi korban menderita adalah orang-orang miskin, seperti penggusuran rumah-rumah  kumuh, rumah-rumah di pinggir sungai Jakarta dan pedagang kaki lima. Semua tindakan-tindakan tersebut adalh tindakan yang melanggar hak-hak asasi manusia. Sedangkan dalam islam kita tidak boleh membuat orang lain menderita apapun alasannya, apalagi bagi kepentingan segelintir orang-orang kaya.  Karena manusia semuanya harus mendapatkan perlakuan yang sama sebagaimana manusia. Jadi utilitarisme tidak bisa kita terapkan sepenuhnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Menurut saya alangkah baiknya jika prinsif utilitarisme dikolaburasi dengan prinsif deontologi. Maka saya yakin hasilnya akan lebih baik daripada hanya bertumpu pada satu prinsif saja.

Penulis : Ridwan Efendi

One thought on “UTILITARISME

  1. Ping-balik: Pengertian dan Penjelasan Utilitarisme | welcome to rinaldi's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s