PUASA RAMADHAN

xcvA.  Definisi Puasa dan Orang Yang Boleh Tidak Melakukan Puasa Ramadhan

1.  Menurut  Fiqih

Puasa adalah menahan dan mengekang diri dari hasrat memenuhi keinginan perut dan kebutuhan biologis dari seseuatu yang diperbolehkan agama, seperti makan, minum, berhubungan hal layaknya suami istri dan sebagainya.  Diawali sejak terbitnya fajar sempai terbenamnya matahari ditandai hilangnya mega merah disebelah timur[1], yang diawali dengan niat mendekatkan diri pada Allah Swt.

2.  Menurut Akhlak

Puasa adalah ekspresi penghambaan yang memiliki dimensi ritual dan sosial sekaligus, karena didalamnya terdapat anjuran bersedekah, shalat-shalat sunnah, tadarus shalat ‘id, zakat fitrah dan sebagainya. Puasa secara akhlaki meliputi pengendalian semua anggota tubuh terutama kelamin, mata, telinga dan hidung dari hal-hal yang diharamkan.

Imam Ja’far as. Berkata;” ketika engkau berpuasa, maka telinga, mata, rambut, kulit, dan seluruh anggota badanmu juga berpuasa.” Maka dari itu cegahlah diri dari hal-hal yang diharamkan, bahkan dari hal-hal yang makruh.

Satu dari sekian kewajiban dan ritual tahunan dalam islam untuk membina jiwa seseorang adalah puasa. Berpuasa pada bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun dari beberapa rukun agama. Kewajiban melaksanakannya sudah tercantum dalam al-Quran ataupun Al-Hadits, dan orang yang mengingkarinya berarti dia berdosa dan melakukan maksiat kepada Allah Swt. bahkan bisa dikatakan sebagai orang yang telah keluar dari islam, karena puasa seperti wajibnya shalat, yaitu ditetapkan dengan keharusan (kewajiban). Dan ketetapan itu diketahui baik oleh yang bodoh maupun orang yang alim’ dewasa maupun yang anak-anak.

3. Orang Yang Boleh Tidak Pelakukan Puasa Ramadhan

Puasa bulan  ramadhan merupakan fardu ‘ain’ dan diwajibkan bagi setiap mukallaf,(orang yang sudah baligh) dan tak seorang pun dibolehkan berbuka, kecuali mempunyai sebab-sebab seperti berikut :

  • Haid dan Nifas : Para ulama sepakat, bahwa bila seorang wanita haid atau nifas, puasanya tidak sah.
  • Sakit : Dalam hal ini ulama mazhab berbada pendapat.

Wanita hamil yang hampir melahirkan, dan wanita yang sedang menyusui.

  • Perjalanan yang sesuai dengan syarat-syarat yang dibolehkan melakukan shalat qhasar, seperti yang telah dibicarakan oleh setiap mazhab.
  • Semua ulama mazhab sepakat bahwa bagi orang yang mempunyai penyakit sangat kehausan boleh berbuka, dan kalau ia kuat meng-qodho’-nya ( menggantinya ) di kemudian hari, maka ia wajib menggantinya, tetapi tidak perlu membayar fidyah, menurut empat mazhab, tetapi bagi Imamiyah wajib membayar kifarah satu mud.
  • Orang tua renta, bai lelaki maupun wanita, yang mendapatkan kesulitan dan kesukaran, serta tidak kuat lagi berpuasa.

B.  CARA MELAKSANAKAN PUASA RAMADHAN

1.  Niat

Niat puasa tidak wajib diucapkan secara lisan, pelaku puasa cukup bermaksud melakukan ibadah puasa (dalam hatinya). Untuk melaksanakan perintah Allah dan tidak akan melakukan hal-hal yanga akan membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Pada intinya puasa harus niat dengan hati;” puasa secara hukum harus diawali dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt seraya menegaskan bentuk puasanya.”

2.  Waktu Beniat Puasa

a.  waktu berniat puasa bagi orang yang tidak memiliki uzur, adalah sebelum masuk subuh atau bersamaan dengan waktu subuh.

b.  Sedangkan bagi yang memiliki uzur, seperti tidak tahu bahwa hari itu adalah bulan ramadhan, atau baru datang dari perjalanan, atau baru sembuh dari sakit, maka waktunya sampai waktu zuhur.

c.  Waktu terakhir berniat puasa wajib diluar puasa ramadhan dan selain puasa nazar, atau puasa qadhha ramadhan, maka waktunya sampai masuk waktu zuhur.

d.  Waktu terakhir berniat puasa sunnah adalah sebelum masuk waktu maghrib.

e.  Jika seseorang tidak tahu bahwa bulan itu bukan bulan ramadhan, kemudian dia berniat puasa lain, maka puasanya syah dihitung sebagai puasa ramadhan.

f.  Tidak wajib puasa pada hari syak (hari yang meragukan apakah itu terakhir bulan sya’ban atau awal ramadhan) namun jika berpuasa akan lebih baik dengan syarat niat untuk puasa sunnah sya’ban.

g.  melepaskan niat untuk membatalkan puasa, berniat melakukan sesuatu yang membatalkan puasa namun tidak jadi melakukannya, maka puasanya tetap syah dan tidak batal.

C.  CARA MENETAPKAN AWAL BULAN RAMADHAN

Allah Swt berfirman dalam kalamNya;

4 `yJsù y‰Íky­ ãNä3YÏB tök¤¶9$# çmôJÝÁuŠù=sù (

Artinya : maka barang siapa diantara kalian yang menyaksikan bulan itu (ramadhan) maka ia hendaklah berpuasa (QS. Al-Baqarah 185)

Rasulallah bersabda :” berpuasalah pada saat kalin melihat bulan itu ( Bulan Ramadhan)”.

Ulama Syiah maupun suni tidak ada perbedaan dalam menetapkan awal bulan ramadhan, yaitu dengan beberapa cara sebagai berikut ;

a.  melihat sendiri bulan sabit (hilal) tanggal 1 ramadhan pada saat azan maghrib dan beberapa saat setelahnya pada tanggal 29 sya’ban, yang munculnya disebelah barat di sekitar terbenamnya matahari.

b.  memperoleh kesaksian dua orang laki-laki yang adil bahwa mereka telah melihat bulan sabit awal bulan ramadhan.

c.  memperoleh kemantapan hati akibat tawatur, yaitu opini umum karena banyak yang melihatnya, walaupun mereka tidak adil, namun mereka mustahil sepakat berbohong.

d.  mengikuti ketetapan hukum syar’i, selama tidak diketahui kesalahannya atau kesalahan sumbernya.

e.  menjadikan genapnya bulan sya’ban hingga 30 hari sebagai dasar penentuan awal bulan ramadhan bila semua cara diatas tidak berhasil.

Uraian diatas merupakan kesimpulan yang diambil dari pemahaman-pemahaman semua ulama mazhab,yang terdapat dalam buku Fiqih Lima Mazhab, bahwa penentuan hilal untuk mengetahui awal bulan ramadhan adalah dengan cara-cara yang telah dipaparkan diatas. Karena setiap ulama baik suni ataupun syi’ah mempunyai kebijakan tersendiri dalam menentukan hilal tersebut. Namun kebijakan tersebut tidak jauh perbedaannya, bahkan banyak kesamaan.

D. SYARAT-SYARAT PUASA

Yang diwajibkan puasa adalah setiap mukallaf. Yang dinamakan mukallaf adalah orang yang sudah baligh dan berakal, maka puasa tidak diwajibkan pada orang yang gila ketika sedang gila, anak kecil, tetapi puasanya anak kecil syah kalau dia sudah mumayyiz, dan tidak boleh tidak syarat syahnya puasa adalah beragama islam, maka bagi mereka yang bukan beragama islam tidak akan diterima puasanya. Semua ulama mazhab[2] sepakat dengan syarat-syarat tersebut, bahkan ditambah (syarat-syarat lain), yaitu suci dari haid, nifas, tidak sakit, tidak berada dalam perjalanan sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tentang orang yang boleh tidak melakukan puasa.

 

E.  HAL- HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

  • Makan dan minum
    • Jika pelaku puasa sengaja memakan atau meminum sesuatu, maka puasanya batal.
    • Jika pelaku puasa sengaja menelan sisa makanan yang ada di sela-sela gusi, maka puasanya batal.
    • Menelan ludah tidak membatalkan puasa walaupun banyak.
    • Jika pelaku puasa karena lupa ( tidak tahu kalau dirinya lagi puasa ) memakan atau meminum sesuatu, puasanya tidak batal.
    • Seseorang tidak boleh membatalkan puasanya karena lemas, tetapi jika karena lemas dia tidak sanggup lagi, maka boleh membatalkan puasanya.
    • Suntik

Jika bukan sebagai pengganti makanan, suntikan tidaklah membatalkan puasa, sekalipun menjadikan bagian anggota badannya terbius.

  • Memasukkan debu tebal ke Tenggorokan

Jika pelaku puasa memasukkkan debu tebal ke tenggorokannya, puasanya batal, baik debu makanan, seperti tepung atau selain makanan, seperti tanah.

  • Merendam Seluruh Kepala di dalam Air

Jika pelaku puasa sengaja memasukkan kepala ke dalam air mutlak’ maka puasanya batal.

  • Membiarkan diri dalam Keadaan Junub Sampai Azan Subuh
  • Muntah
    • Jika pelaku puasa sengaja muntah, sekalipun karena sakit, puasanya batal.
    • Jika pelaku puasa tidak tahu hari puasa atau muntah tanpa sengaja, puasanya tidak batal.
    • Istimma’ ( onani )
      • Jika pelaku shalat ber-istimma’ yakin dia sendiri melakukan kebiasaan rahasia sehingga cairan mani keluar darinya, maka puasanya batal.
      • Jika mani keluar darinya tanpa disengaja, misalnya junub dalam keadaan tidur, puasanya tidak batal.
      • Membiarkan diri dalam Keadaan Junub Sampai Azan Subuh

Jika orang junub sampai azan subuh belum mandi atau jika tugasnya itu tayamum lalu ia belum juga bertayamum, maka pada beberapa keadaan puasanya batal :

  • Jika sampai azan subuh sengaja belum mandi atau jika tugasnya itu tayamum ternyata belum bertayamum :

–  Pada puasa Ramadhan dan puasa qodho, puasanya batal.

–  Pada selain puasa Ramadhan dan puasa qodho, puasanya tidak batal.

  • Jika lupa tidak mandi atau tidak bertayamum dan ingat setelah sehari atau beberapa hari :

–  Pada puasa Ramadhan, puasanya pad hari itu harus di qodho.

–  Pada puasa qodho Ramadhan, berdasarkan ihtiyath wajib, puasanya pada hari itu harus di qodho.

–  Pada selain puasa Ramadhan dan qodho-nya seperti puasa nazar atau puasa karaffah, puasanya sah.

  • Jika pelaku puasa dalam kondisi tidur junub, dia tidak wajib langsung mandi dan puasanya sah.
  • Jika orang junub pada malam ramadhan tahu bahwa dia tidak bisa bangun sebelum subuh untuk mandi, maka dia tidak boleh tidur, dan jika dia tidur dan tidak bisa bangun, maka puasanya batal.
  1. F.  HAL-HAL MAKRUH BAGI PELAKU PUASA
  • Melakukan sesuatu yang menyebabkan badannya jadi lemas seperti donor darah.
  • Mencium tumbuhan yang berbau harum, tetapi memakai parfum tidak makruh.
  • Membasahi pakaian yang dipakai.
  • Bersikat gigi dengar kayu yang basah.

BAB III

MACAM-MACAM PUASA

 

Sudah merupakan keharusan bagi yang sudah baligh atau mukallaf untuk tidak bermalas-malasan dan melalaikan segala apa yang telah difardukan oleh Allah SWT. dan sudah barang tentu bagi orang yang meninggalkannya akan mendapatkan dosa dan cela di dunia ini, serta akan mendapatkan siksa di akherat kelak. Hal-hal fardu tersebut dapat tergambar seperti dalam shalat lima waktu yang harus dikerjakan sehari semalam, zakat bagi segala harta yang berkembang dengan segala syaratnya, puasa di bulan ramadhan dan pergi ke tanah suci Mekah satu kali selama hidup.

Begitupun dengan ibadah puasa, merupakan salah satu bagian  dari ibadah yang wajib. Namun disamping wajib, ibadah puasa memiliki banyak ragam, baik dari niat pelakunya, alasan-alasan dan waktunya. Maka puasa dibagi menjadi beberapa macam, yaitu; puasa wajib, puasa sunnah, puasa makruh dan puasa haram[3].

1.  Puasa Wajib

            puasa yang wajib dilakukan oleh mukallaf atau sudah baligh yang tidak berhalangan secara syar’I untuk melakukannya, yaitu sebagai berikut;

a.  Puasa pada bulan ramadhan, yaitu puasa yang dilakukan pada saat bulan sya’ban berkhir hingga menjelang bulan syawal atau tepatnya dilakukan mulai pada tanggal 1 ramadhan dan berakhir pada tanggal 29/30 ramadhan, yang diakhiri dengan shalat ‘idhul fitri pada tanggal 1 syawal.

b.  Puasa qadha ramadhan, yaitu puasa yang dilakukan oleh mukallaf atau yang telah baligh pada hari-hari diluar ramadhan karena berhalangan melakukan puasa di bulan ramadhan, seperti dalam safar, sakit, haid dan nifas.

c.  Puasa Nazar, yaitu puasa yang dilakukan sebagai pemenuhan nazar ( niat yang diucapkan tercpainya seseatu atau sebagai janji karena terpenuhinya apa yang diharapkannya) atau shighah nazar sebagaimana yang ditetapkan dalam fikih.

d.  Puasa ayah atau ibu yang meninggal, yang wajib dilakukan oleh anak tertua laki-laki.

e.  Puasa kafarat, puasa hari ketiga dari hari-hari iktikaf dan puasa pengganti qurban dalam haji tamattu.[4]

2. Puasa Sunnah

Puasa mustahab (sunnah) adalah salah satu ibadah yang sangat besar pahalanya. Bahkan sebagian buah dari amal sunnah ini bisa dijadikan penambal bagi amal wajib. Karena bisa saja dalam melakukan amal wajib terdapat kekurangan atau cacat.

Islam membuka pintu amal-amal sunnah bagi orang-orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi dengan kemauan yang keras terhadap ambisi dan kerinduannya kepada Allah SWT. maka hal demikian dapat diperoleh melalui seluruh ibadah diantaranya adalah dengan puasa, dan salah satunya adalah puasa sunnah.

a.  Puasa Enam Hari Bulan Syawal. Dalam hadits Abu Ayyub al-Anshari, bahwa nabi bersabda;

من صام رمضان ثمّ أتبعه ستّا من شوّال فكأنّما صام الدّهر

Artinya : “Barangsiapa puasa di bulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan syawal, seakan-akan ia telah puasa satu tahun.”

b.  Puasa pada Hari Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Dalam sebuah riwayat dikatakan”Tidak ada hari-hari yang lebih besar disisi Allah dan tidak ada amal yang lebih disukai Allah kecuali pada hari arafah. Maka perbanyaklah pada hari itu dengan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Nabi SAW ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab “puasa Arafah menghapuskan dosa tahun lalu dan yang akan datang.”[5]

c.  Memperbanyak puasa di Bulan Rajab dan Sya’ban 2 bulan penuh atau beberapa hari didalamya, walaupun hanya satu hari pada dua bulan tersebut. Puasa di bulan sya’ban disunnahkan sebagai persiapan menghadapi bulan ramadhan dan rasa Syukur karena akan berjumpa bulan ramadhan yang belum tentu bulan depan bisa berjumpa lagi. Aisyah berkata;” Rasulallah tidak pernah berpuasa dalam tiap bulan lebih banyak dari bulan sya’ban, karena beliau berpuasa pada bulan itu seluruhnya. Dan banyak lagi hadits lain yang menjelaskan bahwa rasul bayak berpuasa pada bulan sya’ban dan rajab.

d. Puasa di Bulan-bulan Haram, yaitu Dzulkaedah, dzulhijjah, muharram dan rajab.firman Allah Swt

“sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.

e.  Puasa pada Hari Putih ( ayyamul bidh)[6], yaitu tanggal 13,14 dan 15 setiap bulan. Puasa tiga hari setiap bulan merupakan puasa yang disunnahkan, karena Nabi tidak pernah meninggalkan puasa tersebut, disamping itu Allah akan memberi pahala bagi satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan, jadi berpuasa tiga hari seolah-olah berpuasa satu bulan penuh. Riwayat Abu Zar mengatakan ;

من صام كلّ شهر ثلاثة أيّام فذاك صيام الدّهر

 “Barangsiapa yang berpuasa setiap bulan tiga hari, maka hal itu sama dengan puasa satu tahun.”

Berkenaan dengan hal ini Allah juga menurunkan ayat yang berbunyi;

من جاء بالحسنة فله عشر أمثا لها

“ Barangsipa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya,”

f. Puasa Senin dan Kamis, diantara puasa yang disunnahkan dalam setiap minggu adalah puasa senin dan kamis. Dalam sebuah riwayat usmah telah menanyakan pada Nabi tentang rahasia kenapa Nabi selalu melakukan puasa senin dan kamis, maka Nabi Saw. menjawab; “Dua hari itu merupakan hari diangkatnya amal ibadah seorang hamba ke hadirat Allah, dan aku suka ketika diangkat amalku sedang aku berpuasa”. Dan tentang puasa hari senin yang Nabi Muhammad Saw. sering melakukannya karena merupakan hari beliau dilahirkan dan diturunkannya al-Quran[7].

g. Puasa satu hari berbuka dan satu hari berpuasa, (puasanya Nabi Daud as). Puasa ini merupakan puasa yang utama dan sangat disiukai oleh Allah Swt. itupun bagi orang-orang yang mampu melakuannya.

Adapun menurut mazhab imamiyah, selain puasa-puasa yang telah diutarakan diatas ada lagi puasa sunnah lainnya, yaitu ; pertama  puasa setiap tiga hari setiap bulan, dan lebih diutamakan pada hari kamis pertama, kamis terakhir dan hari rabu pertama pada sepeuluh hari kedua setiap bulan, kedua puasa pada hari Idhul Ghadir tanggal 18 dzulhijjah, ketiga puasa pada kelahiran Nabi saw, yaitu 17 Rabi’ul Awwal. keempat puasa pada hari mab’ats/bi’tsah (pengangkatan) Nabi Muhammad saw tanggal 27 rajab, kelima Puasa pada hari mubahalah, yaitu tanggal 24 Dzulhijjah sebagai tanda syukur kepada Allah Swt yang telah menempatkan keutamaan Ahlul Bait as.

Semua ulama sepakat bahwa hari-hari yang  disebutkan diatas disunnahkan untuk berpuasa.[8]

3. Puasa Haram

Dalam islam tidak semua puasa diwajibkan, disunnahkan, dianjurkan dan dipuji. Puasa merupakan salah satu ibadah yang tidak akan diterima kecuali dengan ketetapan sya’riat. Apa yang dilarang oleh syara bukan merupakan ibadah melainkan itu bisa menjadi maksiat, apabila sudah menjadi larangan dengan pasti. Ada sejumlah puasa yang diharamkan dalam hukum islam, yaitu sebagai berikut :

a.  Puasa pada dua hari raya (Idhul Fitri dan Idhul Adha). Barangsiapa yang berpuasa pada dua hari tersebut atau salah satu dari dua itu, maka ia berdosa dan puasanya tidak syah. Barang siapa yang bernazar melakukan puasa pada hari tadi, nazarnya tidak syah karena tidak ada nazar yang dilakukan dalam maksiat pada Allah Swt.kenapa disebut maksiat? Karena dilarang dan diharamkan oleh Allah Swt. Hari raya Idsul Fitri adalah hari kebahagiaan semua muslim di dunia, baik yang berpuasa ataupun yang tidak. Setelah sebulan penuh melakukan puasa kemudian disempurnakan dengan kebahagian merayakan Idhul Fitri. Dalam hadits sahih dinyatakan “ bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, yaitu apabila ia berbuka akan gembira dengan bukanya itu dan apabila dia menemui Tuhannya ia gembira dengan puasanya”. Kegembiraan Idhul Fitri lebih besar daripada kegembiraan dengan berbuka pada setiap hari.

b.  Puasa hari-hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Dari Uqbah bin A’mir bahwa Nabi Saw bersabda;”hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum dan shalat, maka janganlah berpuasa seorangpun pada hari itu”.[9]

Ulama mazhab sepakat bahwa puasa pada hari raya idul fitri dan idul adha adalah haram, kecuali hanafi yang beranggapan bahwa puaa pada dua hari raya itu adalah makruh. Begitupun berpuasa pada hari tasyrik, semua ulama mazhab sepakat bahwa puasa pada hari itu adalah haram, kecuali ulama hanafi yang menybutkan bahwa puasa pada hari tasyrik adalah makruh yang mendekati haram[10].

c.  Puasa sunnah yang apabila sampai menghilangkan hak orang lain.

d.  Puasa sunnah yang dilakukan seorang istri tanpa izin suaminya.

لا يحّل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلاّبأذنه

“Tidak halal bagi seorang istri untuk berpuasa pada saat suaminya ada, kecuali dengan izinnya”.[11]

Dan pada riwayat lain dikatakan “tidak halal bagi seorang istri berpuasa pada saat suaminya ada, kecuali dengan izin, selain bulan ramadhan”.[12]

Dalam hal ini juga semua ulama fiqih sepakat bahwa puasa sunnah seorang istri tanpa izin suaminya adalah haram, kecuali hanafi yang mengangapnya sebagai makruh yang mendekati haram.[13]

e.  Pegawai yang tidak melakukan tugas dengan dalih puasa.

f.  Puasa memenuhi nazar maksiat.

g.  Puasa wishal, artinya menyambung puasa sampai hari berikutnya (tidak makan dan minum dengan niat puasa)[14].

h. Puasa pada tangal 30 Sya’ban dengan niat puasa ramadhan.

Dan tambahan puasa yang haram menurut mazhab Suni namun sunnah menurut mazhab Syi’ah, yaitu; pertama pengkhususan puasa kelahiran Nabi tanggal 12 Rabiul Awwal/ 17 Rabiul Awwal, kedua pengkhususan puasa pada tanggal 27 Rajab, ketiga pengkhususan puasa pada hari ke-15 sya’ban.[15] Alasan knapa puasa-puasa tersebut termasuk katagori haram? menurut Dr. Yusuf Qardlawi merupakan perbuatan bid’ah, karena tidak ada tuntunan dan contoh yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw secara khusus.

4.  Puasa Makruh

Puasa makruh adalah puasa yang pahalanya sedikit dibandingkan dnegan puasa pada hari lain. Menurut Dr. Yusuf Qardlawi puasa makruh diantaranya adalah:

a.  Puasa satu tahun penuh

b.  Pengkhususan puasa di bulan sya’ban

c.  Pengkhususan puasa di  hari jum’at

d.  Pengkhususan puasa di hari sabtu

f.  Melakukan puasa tanpa melakukan shalat.

Sedangkan menurut mazhab syi’ah puasa makruh adalah

a. Puasa seorang tamu tanpa izin tuan rumahnya

b. Puasa anak kecil tanpa izin orang tuannya.


[1]  Salman Nano. Maka Berpuasalah, hlm. 9

[2] Muhammad Jawad mughniyah. Fiqih Lima Mazhab, hlm. 160

[3]  Salman Nano. Maka Perpuasalah, hlm. 28

[4]  Imam Ali Khananei. Daras Fikih, hlm. 219

[5] Dr. Yusuf al-Qardlawi. Fiqih Puasa,hlm.254

[6]  Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Imam Ja’far Shadiq, hlm. 341

[7]  Dr Yusuf al-Qardlawi. Fiqih Puasa, hlm. 268

[8] Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Lima Mazhab, hlm. 169

[9]  Hadits Riwayat Ahmad, dan  al-Bazzar

[10]  Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Lima Mazhab, hlm. 168

[11]  H. Mutafak”Alaih dari Abu Hurairah dan ini lafaz bukhhari.

[12]  H.Riwayat Abu Daud, dari abu hurairah,an-Nawawi berkata: isnad riwayat ini shahih atas syarat Bukhari Muslim: al-Majmu’:6/392

[13] Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Lima Mazhab, hlm.169

[14] Salman Nano. Berpuasalah, hlm. 32

[15]  Dr. Yusuf al-Qardlawi. Fiqih Puasa, hlm.280

penulis : Ridwan Efendi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s