Muhammad Iqbal

iqbalzind

A.  Kehidupan Pribadi dan keluarganya

Muhammad Iqbal dilahirkan pada tanggal 24 Dzul Hijjah 1289/ 22 februari 1873 di Sialkot. Ia terletak beberapa mil dari Jammu dan Kashmir, suatu kawasan yang kelak terus menerus menjadi sengketa antara india dan Pakistan[1]. Iqbal terlahir dari pasangan Syaikh Nur Muhammad yang dikenal memiliki kedekatan dengan para sufi dan Imam Bibi, yang juga dikenal sangat religius. Ayah iqbal dengan sebutan “ Sang Filosof tanpa guru” karena selain seorang penjahit , beliau juga memiliki perasaan mistis yang dalam serta rasa keingintahuan yang tinggi. Mereka memiliki lima anak, tiga putri dan dua putra.

Muhammad Iqbal tumbuh dibawah bimbingan orangtuanya yang ta’at. Bahkan kelak ia sering berkata bahwa pandangan dunianya tidaklah dibangun melalui spekulasi filosofis, melainkan diwarisi oleh kedua orang tuannya. Dimasa kanak-kanaknya iqbal dikenal menyukai ayam hutan dan senang memelihara burung merpati. Beliau sangat akrab dengan kawan-kawannya dan mengahabiskan masa kanak-kanaknya di perbatasan Punjab.

Di Kota Lohare iqbal menghabiskan masa dewasanya dan kuliah di perguruan tinggi terkemuka, yaitu Government College.  Sebelum masuk kuliah (1892) iqbal dinikahkan orangtuanya dengan karim Bibi, putri seorang dokter Gujarat yang kaya, Bahadur ‘Atta Muhammad Khan. Dari Bibi, Iqbal dikaruniai tiga orang anak,Mi’raj yang wafat diusia muda, Aftal Iqbal yang mengikuti jejak iqbal belajar filsafat, dan salah satu lagi meninggal saat dilahirkan.

Pada tahun 1909 Iqbal dinikahkan dengan Sardar Begun, seorang wanita muda yang cantik namun rapuh fisiknya. Pernikahan tersebut tidak sempurna, karena berbagai alasan. Pada akhirnya iqbal sempat terpisah beberapa lama dengan istrinya tersebut dan kemudian menikah kembali pada tahun 1913. Sardar begun memberikan cinta, pengabdian dan ketenangan batin pada Iqbal. Nemun ia wafat pada usia muda, yaitu usia 37 tahun. Ia meninggalkan satu putra yang bernama Javid Iqbal dan satu putri Munirah.

Pada tanggal 20 Aprli 1938 disela sakitnya, Iqbal memanggil anaknya Javid dan memberikan pesan terakhirnya. Dan salah seorang hadir pada saat itu adalah teman dekatnya iqbal, yaitu Judhari Muhammad Husain, dan beliau wafat tidak lama setelah kewafatan Iqbal. Adapun pesan iqbal kepada anaknya  yaitu :  “jika engkau ingin bahagia, maka temuilah seseorang yang dianugrahi Allah wawasan yang jernih, apabila tidak, lakukanlah pesan-pesanku ini”[2].

Akhirnya Iqbal wafat pada usia 60 tahun masehi satu  bulan atau 63 tahun hijriah satu bulan, dua puluh Sembilan hari, tepatnya di malam hari.

B.  Pendidikan dan Karir Pekerjaan Iqbal

Sejak kecil iqbal sudah mendapatkan pendidikan dasar agama yang kuat, baik dari orangtuanya ataupun dari guru-gurunya. Dan ia dididik untuk selalu belajar dan menghafal al_quran.  Karena kecerdasan dan prestasinya di sekolah menengah (1893), iqbal mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi, yaitu Scotch Mission College. Perguruan tinggi yang didirikan oleh para misionaris scotlandia dan Belanda. Selain beliau belajar di kampus, beliau juga mendapatkan Privat gurunya Mir Hasan dalam pengetahuan kesustraan Arab, Urdu dan Persia.

Dua tahun kemudian Iqbal melanjutkan pendidikannya di Government College, di kota  lohare. Merupakan salah satu lembaga pendidikan terbaik di benua india. Di kampus ini iqbal menekuni sastra dan filsafat Arab serta Inggris. Dan beliau lulus dengan predikat cum laude. Iqbal melanjutkan magisternya dibidang Filsafat. Perkembangan intelektual iqbal tak lepas dari persahabatan guru murid dengan Sir Thomas Arnold, guru besar filsafat yang mengerti tentang kebudayaan islam dan kesustraan Arab. Dialah yang sering memberi motivasi kepada Iqbal agar meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di Eropa.

Iqbal berupaya memperbaiki keadaan sosialnya dengan menjadi pengacara. Namun ujian awal ilmu hukum yang  beliau ikuti pada tahun 1898 mengalami kegagalan. Karir pertamanya, ia ditunjuk sebagai asisten pengajar bahasa Arab d Macleod_Punjab Reader of Arabic, University Oriental College (1889-1990).  Disamping itu beliau juga mengajar mata kuliah sejarah dan ekonomi.

Merasa tidak puas dengan profesi akademisnya dan merasa terkekang sebagai propesor, karena senantiasa diawasi oleh pemerintahan inggris. Ia mengikuti seleksi sebuah posisi bergengsi sebagai Asisten Tambahan (Extra Assistant Commisioner), namun beliau mengalami kegagalan. Kegagalan ini membuat  ketenaran Iqbal sebagai penyair semakin memuncak. Hal ini menjadikan dorongan Iqbal untuk berangkat ke Eropa (1905). Terlebih dahulu Iqbal memperdalam pengetahuan Filsafatnya di Universitas Cambridge, dengan mengambil kuliah bachelor pada jurusan Filsafat.

Kemudian Iqbal meneruskan niatnya pergi ke Jerman. Pertama-tama Iqbal belajar bahasa dan filsafat di Universita Heidelberg. Secara mengejutkan hanya dalam waktu tiga bulan Iqbal menguasai bahasa Jerman. Merasa tidak puas, ia kembali ke Inggris (London) untuk bekal bagi profesinya di india kelak. Pada Tahun 1908 beliau berhasil lulus sebagai pengacara.  Selama beberapa waktu, iqbal sempat pula masuk ke School of Political Science dan menggantikan Sir Thomas Arnold selama kurang lebih tiga bulan.

Pada tahun 1908 iqbal kembali ke tanah airnya (India). Ia menjalankan profesinya sebagai pengacara dan mengajar sebagai asisten di Government College, memberi kuliah filsafat, sastra Arab dan satra Inggris selama kurang lebih satu setengah tahun. Sejak oktober 1908 sampai dengan tahun 1934 atau empat tahun sebelum wafatnya, iqbal setia menjalani praktik pengacaranya sambil terus aktif sebagai pengajar, penulis, penyair sekaligus politisi.

Reputasi kepenyairan iqbal sudah menjadi sorotan sejak usianya 22 tahun. Beliau selalu mendapatkan kesempatan untuk membacakan sajak-sakanya yang berisikan masalah politik, kebudayaan Kashmir dan kesejahteraan bangsa. Debut pertamanya yang sukses adalah pada tahun 1900, dengan lantunan puisi yang berjudul Nala-I-Yatim ( tangisan anak yatim). Puisi ini berhasil menggugah perasaan para hadirin sehingga sebagian menitikan air mata dan sebagian lagi  bermurah hati menyumbangkan dana ke kas Anjuman. Pengakuan public terhadap iqbal terus menerus mengalir. Akhirnya sajak itu sering dimuat di majalah dan surat kabar. Disamping itu iqbal juga menerjemahkan sajak-sajak berbahasa inggris. Bahkan dia bercita-cita untuk mengubah sajak-sajak bergaya penyair inggris terkenal, Milton.

Pada tahun 1904 Iqbal menulis sebuah syair yang dikhususkan untuk gurunya yang bernama Sir Thomas Arnold, sajak indah ini berjudul Nara-I-Firaq (ratapan perpisahan). Karena gurunya tersebut akan kembali ka tanah Airnya. Inggris.

Dipuncak ketenaranya itu iqbal dikenal pula oleh masyarakat hindu di India sebagai seorang muslim yang nasionlais. Iqbal menulis sejumlah syair yang bertemakan persahabatan Hindu-Muslim, seperti Tarana-I-Hindi (Nyanyian dari India), Hindustani Bachon Ka Qowmi Git (Musik Nasional Anak-anak India) dan Naya Shiwala (Kuil Baru)[3].

Meskipun telah tiga tahun di Eropa (1905-1908) iqbal tidak kehilangan produktivitas. Ia masih menulis 24 lirik atau sekitar 8 karya per tahun. Dan melalui syair-syair itulah iqbal manjadi semakin terkenal di Tanah Airnya. Tak ada yang lengkap untuk mengenali Iqbal melainkan dengan melalui puisi-puisinya. Ia menulis dengan berbagai gaya, baik itu ghazal (sonata), mutsnawi, gat’ah, dobyti (untaian) dan ruba’I (sajak empat baris)[4].

C.  Filosof-Filosof yang Mempengaruhi Iqbal

Berbicara tentang Iqbal pasti takan terlepas dari para filosof barat. Karena iqbal adalah filsosof muslim yang dalam pemikirannya banyak terpengaruhi oleh pemikiran barat. Seperti Thomas Aquinas, Bergson, Nietzsche, Hegel, Whitehead, Berkeley dan masih banyak lagi lainnya. Namun pembahasan ini akan lebih kepada dua Filosof yang paling banyak pengaruh pemikirannya kepada Iqbal, yaitu Neitzche dan Bergson.

1.  Friedrich Nietzsche

Masa Nietzsche kurang lebih pada tahun 1844-1900. Konsep filsafatnya adalah kehendak untuk penguasaan berkaitan dengan konsef lebenphi-losophie tentang hidup. Menurutnya hidup bukan sebagai proses biologis melainkan sebagai sesuatu yang mengalir, meretas dan tidak tunduk pada apapun yang mematikan hidup.

Adapun rekonstruksi yang menjadi warisan klasik bagi pondasi peradaban barat ada tiga, yaitu : filsafat, moralitas dan agama. Tiga konsef tersebut menurut Nietzsche bukan membawa kepada kemajuan melainkan kehancuran. Yang pertama, kritik terhadap filsafat : Nietzsche menjungkirbalikan konsep kebenaran yang selalu diagung-agungkan dalam filsafat barat. Setiap pemikiran yang mencari kebenaran sebenarnya hanya menutupi motif sebenarnya yaitu kehendak untuk menguasi khaos menjadi kosmos. Keritikan yang kedua adalah moralitas, menurutnya moralitas adalah tanda kepengecutan manusia dalam menghadapi hidup dibawah kendali rasionalitas atau kehendak tuhan. Menurutnya kebaikan adalah semua yang meninggikan kekuasaan dalam manusia, keburukan adalah semua yang berasal dari kelemahan, sedangkan kebahagiaan adalah perasaan bahwa kekuasaan telah meningkat bahwa suatu perlawanan telah diatasi.

Yang ketiga adalah terhadap agama (sosok kristus), nabi yang dianggap sebagai pewarta kabar gembira, pembebas, nabi cinta kasih dan diintrepretasikan Neitzsche sebagai nabi moralitas budak. Dan menurutnya moralitas budak adalah tumbuh dari rasa takut terhadap kekuatan sang tuan, membencinya dan mencemburuinua.

Selama tinggal beberapa waktu di Eropa Iqbal mengalami perubahan penting, diantaranya tentang nilai moral dan kekuatan. Meskipun Iqbal banyak terpengaruh oleh pemikiran nietzsche namun beliau juga tidak sepenuhnya menerima tiga konsep yang tadi, bahkan beliau juga memberikan keritikan kembali pada Nietzsche. Adapun salah satu pengaruhnya pada Iqbal adalah ketika Iqbal menulis sebuah buku “kekuatan itu lebih Ilahiah dibandingkan kebenaran.” Bahkan  di halaman lain Iqbal menulis tentang suporioritas kekuatan diatas kebenaran. Filsafat adalah logika kebenaran. Keritik keras Iqbal kepada Nietzsche berkaitan dengan keterjebakan Nietzsche terhadap doktrin perulangan abadi (eternal reccurence), padahal ia sendiri menolak kepercayaan bahwa manusia tak dapat dipertandingkan dalam ide evolusi[5].

Iqbal memang terinspirasi dari Nietzsche, terutama dalam semangatnya. Hal ini tampak dari puisi-puisinya tentang Nietzsche bahwa kita dapat meraih semangat yang positif dan harapan dari ketulushatian. Persamaan keduanya memang hanya dapat ditarik melalui bangunan filsafat menusia yang memiliki ideal tentang manusia unggul yang dilakukan melalui realisasi kekuatan kehendak manusia. Kedua-duanya percaya bahwa manusia  adalah sebuah jembatan yang harus dilampaui.

2.  Henry Bergson

Henry Bergson (1859-1941) merupakan tokoh yang bisa dibilang paling berpengaruh terhadap pemikiran Iqbal, khususnya soal intusi dan elan vital. Bergson mengemukakan adanya dua pengenal yaitu analisis dan intuisi. Berfikir secara intuitif adalah berfikir dalam durasi. Durasi sendiri dipahami sebagai waktu yang bergerak dalam berkelanjutan (continous flow) dan bukan waktu yang terspesialisasi oleh rasio menjadi momen-momen atau titik-titik dalam garis. Rasio hanya mampu memahami bagian-bagian statis dan tidak mampu mengangkap pergerakan terus menerus (durasi). Hanya intuisi lah yang mampu menangkap fenomena durasi dan realitas sesungguhnya adalah durasi.

Evolusi menurut Bergson adalah impuls vital dari elan vital yang mendorong semua organisme secara konstan menuju bentuk yang lebih canggih dan rumit. Elan vital adalah elemen pokok bagi semua makhluk hidup dan merupakan daya kreatif yang bergerak berkelanjutan tanpa putus.

D. Karya-karya Muhammad Iqbal

1. Asrar-i Khudi (Rahasia Pribadi), (1915)

2. Bang-i Dara (Seruan dari Perjalanan), (1924)

3. The Recunstruction of Relegious Thought in Islam, (1930)

4. Payam-i Masyriq (Pesan dari Timur), (1923)

5. dll.


[1] Adian, Donny gahral. Muhammad Iqbal. Hlm.23

[2] Azzam, Abdul Wahhab. Filsafat dan puisi Iqbal. Hlm. 39

[3] Adian, Donny Gahral. Muhammad Iqbal. Hlm 33

[4] Adian, Donny Gahral. Muhammad Iqbal. Hlm 33

[5] Adian, Donny Gahral. Muhammad Iqbal. Hlm 42

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s